Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label fiksi

Susah melupakanmu

Sudah setahun, aku tidak tau kabarmu. Sejak kita lulus SMA, kita sudah tidak pernah bertemu lagi.. Yang aku tau dari sahabatmu, kamu kuliah di jawa timur. Tapi aku tidak tau kamu kuliah di daerah mana.. Mungkin kamu sudah melupakanku. Mungkin kamu sudah menemukan penggantiku. Kali ini, aku hanya ingin melihatmu sekali saja.. entah itu dimana, yang penting aku bisa melihatmu meskipun dari jauh.. Malang, 2007

Kehilangan

Beberapa kali harus aku pastikan bahwa ternyata dia bukan milikku lagi. Dia menghilang perlahan dari hidupku. Dan itu yang paling aku takutkan, sekarang mulai jadi kenyataan. Aku mulai merasa ketakutan, aku pasti tidak akan bisa bersama dengannya lagi. Aku rindu suaranya, aku rindu banyolannya, aku rindu senyum dengan lesung pipinya itu. Dadaku mulai sesak, otakku trus memikirkan dia. Aku merasa tidak bergairah untuk hidup. Aku cuma butuh dia, aku cuma butuh hidupku kembali normal bersama dia. Suatu saat, aku pasti bertemu dengan dia lagi. Dan aku percaya dia adalah jodohku kelak. Yogya, 2006

Seburuk apapun tetap aku cinta dia

Namanya Tomi.  Tubuh jangkung, dan senyum yang selalu memperlihatkan lesung pipit itu telah membuatku menjadi jatuh hati pada sesosok lelaki yang sekarang telah resmi menjadi tunanganku. Dia lelaki yang telah membuatku menjadi wanita seperti saat ini. Tatapannya yang sendu membuatku menjadi semakin jatuh hati kepadanya. Dulu, dengan seenaknya aku terus menerus menyakiti perasaan dia. Dengan seenaknya aku mempermainkan perasaan dia dengan selalupergi dengan kawan lelaki. Sekalipun mereka hanya "kawan", tapi menurut Tomi itu tidak baik. Dengan sikapku yang egois, telah membuat Tomi sakit hati. Ya.. Dia sangat sakit hati dengan perbuatanku. Namun, Dia tetap memilihku. Disaat bertahun-tahun aku tidak bertemu dan tidak dekat dengan dia, Tapi satu hal yang selalu ingat. Aku ternyata diam - diam merindukan sosok Tomi. Aku merindukan sikap kalem dia, sikap perhatian dia yang berlebih tapi aku merasa nyaman, dan sikap dia yang selalu memaafkan aku. Sekalipun aku...

itu semua karenamu

Tatapan mataku lurus, menatap sesosok lelaki yang akhir-akhir ini selalu berada di dekatku. Laki-laki yang selalu mengusik benteng pertahananku dengan dunia yang telah aku tata dengan sangat rapi. Dia perlahan tapi pasti, telah memasukinya tanpa permisi. Aku melihat dia yang sibuk dengan tumpukan buku yang berada dihadapannya. Aku mengamati dia dari jauh, tampangnya yang serius, dan wajah tampannya itu membuatku tidak berhenti mengamatinya. Secara tidak sengaja, dia yang awalnya menekuni buku-buku itu, langsung melihatku. Dia tersenyum dan langsung melambaikan tangannya kearahku. Dan aku, hanya bisa membalas dengan tatapan tanpa senyuman. Dia langsung menghampiriku, dan berkata " kemarilah, temani aku. Kau tidak lelah hanya berdiri sini?" tanyana sambil terus manarik tanganku. " Dan, terima kasih. Terima kasih selama ini kau telah mengusik kehidupanku. Terima kasih telah mengusik benteng pertahananku yang telah aku tata dengan sangat rapi. Terima kasih...

seburuk apapun, dia adalah Ibuku

Perasaanku yang dulu membenci perempuan paruh baya ini, perlahan-lahan mulai hilang Hatiku yang dulunya sakit dikala aku mengetahui bahwa ia adalah perempuan yang melahirkanku, dan kemudian membuangku ke sebuah panti asuhan, mulai hilang. Kali ini, perasaan yang aku rasakan hanya kasian, dan juga perasaan iba. Sekalipun dia wanita yang telah membuangku, tapi dengan melihat usaha dia untuk menemukanku belasan tahun, membuatku terenyuh. " Maafkan Ibu, Nak.. Ibu tahu, kau tak akan mau memaafkanku" ujar wanita itu dengan tatapn sendu. Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa menatap kearah wanita itu saja tanpa membuka mulutku menanggapinya. " Naak.. Maafkan Ibu.." ujarnya lagi sambil menangis. Aku tetap mematung, perasaanku campur aduk. Antara bahagia, sedih, marah dan kesal campur menjadi satu. Wanita itu kelihatan mulai menyerah, dan perlahan-lahan mulai menjauhiku dengan uraian airmata. Tanpa sengaja, kakiku mulai berjalan ke arah wanita itu, ke...

Kamu suka dia, Tar

Setelah pembicaraanku dengan Caca terakhir kali, secara tidak sengaja aku merasa Caca mulai tidak banyak bicara seperti biasanya. Aku merasa dia sedikit berbeda tidak seperti biasanya. Entahlah, apa yang membuat dia menjadi berbeda seperti ini Semakin lama, aku menjadi semakin tidak nyaman dengan perubahan sikap dia. " Ca, Kamu kenapa? Kamu berubah" ujarku suatu saat ketika aku dengan Caca kumpul bersama. " Berubah? Sepertinya tidak, Tar" sahutnya sambil terus melihat ke arah handphone yang dia pegang. " Tidak? kamu yakin tidak? Caca yang biasanya tidak seperti ini. Caca yang dulu cerewet, tapi sekarang malah pendiam" sahutku sambil menatap ke arah Caca. " Baiklah, Tar. Entahlah, kenapa akhir-akhir ini aku menjadi malas berbicara denganmu" jawab Caca akhirnya sambil menatap Tara. "Malas? ada apa? kenapa kamu malah bersikap seperti ini terhadapku?" " Aku merasa kau yang berubah, Tar"  Aku terkesiap dengan p...

Kamu dan keputusanmu

" Asuuu.." Bentak Doni, saat membuka pintu kontrakanku. Sontak, aku langsung terkejut dengan teriakan dia saat masuk ke dalam kontrakan. "heii.. ada apa, bro. Ngapain teriak-teriak dikontrakan orang" ujarku dengan tampang masam. "Entahlah, aku lagi pusing. Tania, dia sama aja dengan cewe laen" sahut Doni sembari mulai masuk kamarku, dan duduk disampingku yang sibuk dengan game online. "Dan untuk kesian kalinya, kamu selalu mengeluh tentang sikap Tania, kepadaku. Sudahlah, lepasin Tania. Cari cewe yang lebih baik dari dia" sahutku sambil terus fokus dengan permainan game online. "Kamu enak bilang kayak gitu. Karena kamu blom ngerasain sayang banget ama cewe" timpal Doni. Aku hanya melirik kearah Doni, dan kemudian berkata "kata sapa aku ga pernah ngalamin hal kayak kamu". "Yakin? kamu pernah kayak aku?" tanya Doni ga percaya. "Hahaha yakinlah, aku juga manusia, kali. Makanya, aku langsung nyarani...

Partner hidupku adalah kamu

Degup jantungku berdetak dengan sangat cepat membuatku benar-benar merasa jantungku semacam hampir copot Dengan perasaan yang setengah tidak percaya, Huan menyatakan bahwa dia menyukaiku Aku tidak bisa mempercayai omongan dia yang menurutku sedikit konyol. " Na, beneran. Aku sangat menyukaimu" sakli lagi suara Huan menyatakan perasaannya. "Hm.. iya, Huan. Aku tau kau menyukaiku"sahutku dengan nada melemah. "Terus? Kau tidak menanggapinya. Jawablah.." ujar Huan Aku hanya membalaasnya dengan senyuman. Sementara Huan, dia sepertinya merasa kurang puas dengan jawabnku. Aku benar-benar tidak bisa menjawab pernyataan Huan yang menurutku secara tiba-tiba ini. Hatiku yang mendadak berdegup kencang, seperti memberitahuku bahwa penyataan Huan membuatku terkejut. Huan, seorang sahabat dekatku. Sahabat yang dari dulu aku sangat menyukainya, dan sangat aku sayangi mendadak dia menyatakan perasaan seperti itu, secara tidak sengaja membuatku ...

Sejahat apapun dia, aku tetap sayang dia Tar!

" Tar, aku mau curhat" Aku yang sibuk dengan hapeku, mulai berhenti dan langsung menatap kearah Tom yang terus menatapku. " ada apa, Tom? Cilla lagi?" tanyaku sambil memasukkan hapeku ke dalam tas Tom hanya mengangguk pelan. " Kenapa dengan Cilla?" tanya ku dengan terus menatap Tom dengan seksama. " Dia selingkuh, Ta. Aku sakit ati dengan sikap dia" " Selingkuh? Ya ampuun.. keliatannya dulu dia bener-bener suka banget ama kamu, sampe akupun ikut dicemburui oleh dia" ucapku. Tom tersenyum kecut, dan meneruskan ceritanya " Dia kemaren mulai cerita ke aku, kalo dia lagi bingung dengan hatinya. Cowo yang suka banget ama dia muncul lagi, cowo yang kemana-mana make mobil jazz. Aku sakit ati, karena dia silau ama kekayaan cowo itu" Aku terus mendengarkan curhatan Tom, sekalipun sedikit tidak percaya Cilla melakukan hal itu. " Kamu tau dari mana dia selingkuh, Tom?" " Kemaren, dia bilang ke aku kalo...

Yogya adalah pilihanku

Stasiun Lempuyangan Hari ini, untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di kota Yogyakarta. Aku yang terduduk lemas di sebuah kursi diruang tunggu, perlahan-lahan mulai bosan dengan orang-orang yang ada disekitarku. Hari ini, harusnya Bima, sepupuku menjemputku di stasiun. Tapi, setelah aku tunggu sampai satu jam, masih belum ada kabar beritanya. Lagu Jordin Spark yang No Air mendadak terdengar dari hapeku. Aku melihat layar hapeku, dengan sigap aku langsung menekan tombol yes, dan sudah mulai mengomel tanpa jeda. Bima, sepupuku yang ada di sebrang langsung berkata, " Ta, uda selesekan? kamu mau pulang kan? Ayo cepet keluar dari stasiun". Aku yang hendak mulai mengomel lagi, langsung berhenti dan langsung menutup telpon. Bergegas aku keluar dari stasiun, dan mulai mencari sosok Bima. Seseorang mendadak ada yang menepuk pundakku. Seketika aku langsung menoleh, dan langsung tersenyum sumringah. " Ya ampun Bimaaa... aku nungguin kamu satu jam, kemana aj...

Kamu adalah pilihanku

Yang tahu tentang hatimu itu, kamu sendiri Yang tahu tentang perasaanmu, kamu sendiri Entah terkadang orang lain yang tidak mengerti tentang kamu, dengan seenaknya meremehkanmu Meremehkan tentang perasaan dan hatimu Aku, yang berjalan sesuai dengan hati dan perasaanku Aku, yang memilih dia sesuai hati dan perasaanku Mungkin bisa saja orang lain yang tidak tahu tentang itu, meremehkan pilihanku Karena mereka tidak tahu apa itu perasaan nyaman Dia pilihanku, Dia yang akan menuntun langkahku kelak  Untukmu, Mr. D

Kamu untukku

" Itu maksudnya apa?" tanyaku dengan penuh selidik " Hm.. aku pengen dia jadi calon istriku" Deg! mendadak perasaanku langsung terasa sakit Dalam hati, aku hanya merutuk diriku saja " Ta, kamu bodoh telah melepaskan dia dulu. Dan sekarang dia telah memilih yang lain" Aku terus berkata demikian dengan perasaan menyesal " Oh.. semoga dia benar-benar calon istrimu yang telah Tuhan persiapkan untukmu, Jun" "Makasi, Ta" *** Percakapanku dengan Juna semalam, telah membuatku merasakan penyesalan yang amat mendalam Rasanya aku ingin menarik Juna kembali ke dalam sisiku Rasanya aku ingin berkata kepada Juna, " Jangan pergi.. Aku butuh kamu" Dan hatiku kali ini benar-benar terasa sakit, merasa tidak ikhlas dia dengan orang lain. Selama ini, Juna yang selalu ada didekatku Sekalipun aku dengan orang lain, dia tetap berada disampingku. Dia tetap setia menjadi temanku, sekalipun dia merasa sakit hati dengank...

Kamu dan wajahmu

Tatapan semua orang mengarah kepadaku. Entahlah, seperti ada yang aneh denganku, sehingga orang-orang menatapku dengan tatapan yang tajam, dan terkadang mereka saling berbisik. Merasa risih, akupun hanya bisa melihat pada diriku sendiri. Takut ada yang yang salah dengan caraku berpakaian ataupun dengan gaya dandananku yang membuat mereka seperti itu. " Tenanglah, itu bukan karena dirimu. Tapi mereka melihatku, Far" "Kamu? ada apa denganmu, Ndi?" "Hahaha tidak ada, Far. Intinya, mereka membicarakan dan melihatku" Aku hanya bisa melongo mendengar pernyataan Andi, temanku di masa SMA. Entah, ada apa dengan Andi. Aku juga tidak merasakan dia ada yang aneh. Tapi mengapa orang-orang banyak yang melihat kearah aku dengan dia. Andi sepertinya mengerti dengan kebingunganku, dia langsung tersenyum dan mengajakku keluar dari cafe itu. "Aku paham, kamu bingung Far. Kenapa banyak yang melihat kearah kita" Ujar Andi saat berada diluar cafe. Aku ters...

kamu dan hadiah kecilmu

Aku melirik kearah jam dinding yang berada tepat diatas kepalaku. "Ya ampun, uda jam 5. Duh, Farid bakal marah-marah" Batinku, sambil sibuk membereskan pekerjaanku yang berada diatas meja. Hari ini, adalah hari jadiku dengan Farid yang ke 4 tahun. Dan akupun uda ngejanjiin dia buat ngerayain bareng dengan dia di salah satu kafe kesukaanku dengan dia. Aku langsung keluar dari kantor, dan langsung masuk ke salah satu taksi yang mangkal didepan kantorku. "Duh, Farid bakal marah" batinku lagi. Aku langsung bbm Farid, "Maaf, aku terlambat" Beberapa saat aku menunggu jawaban dari bbmku, hanya di jawab dengan tulisan, "Y" Perasaanku mulai merasa tidak nyaman dengan jawaban Farid. Tapi aku hanya bisa menghela nafas, sambil terus menatap ke arah jalan.                                                                     ...

Antara Perasaan, hati dan akal

Perasaan macam apa ini?? Perasaan yang sampai sekarang masih berakar, tidak dapat dicabut sekalipun menggunakan berbagai macam alat. Perasaan benci itu masih ada kah? Atau hanya sebuah perasaan yang sekelebat dan mendadak hilang.. Seiring dengan berjalannya waktu, belajar untuk memaafkan orang lain sangat sulit. Benar, sangat sulit. sehingga belajar untuk tetap tersenyum dihadapannyapun susah. Selalu menatap kearah dia dengan tatapan kemarahan, kebencian. Terkadang, hati itu berkata " Tolong, maafkan dia. Kau akan segera meninggalkan dunia ini. Segeralah belajar untuk memaafkan, karena disaat kau meninggal harus bersih dari perasaan benci itu". Sementara akal? Terkadang masih merasa tidak adil, dengan perkataan dia, dengan sikap dia, membuat perasaan benci itu muncul kembali. Apakah hati dan akal bisa beriringan? Agar kita bisa sama-sama belajar apa itu arti memaafkan. Karena, Allah sendiri bisa memaafkan umat-Nya. Sementara kita? Entahlah..

Dia jodohku?

Namanya Alan Aku mengenalnya disaat aku berada di toko buku langgananku Dia baik, ramah dan paling penting rajin beribadah Entah sejak kapan aku mulai sering pergi berdua dengan dia Nyaman? mungkin perasaan itu yang membuatku menjadi semakin dekat dengan dia Dia lebih tua denganku 4 tahun Secara umur, dia tampak dewasa Secara tidak sengaja, aku merasa dia adalah seseorang yang selama ini aku cari Lelaki yang menurutku bisa menjadi seorang imam untukku kelak MasalahTampan? Tidak, dia tidak tampan. Tapi dia berkharisma menurutku Setiap aku punya masalah, diapun selalu mau mendengarkanku dan tidak segan-segan selalu memberikan solusi kepadaku. *** " Dia siapa, Tar?" Mendadak Caca datang ke kamarku langsung menanyaiku tanpa basa-basi. " Yang mana?"tanyaku sambil terus membaca novel yang baru aku beli. "Tadi, yang ke kos. Tumben, kamu ga pernah cerita ke aku" timpal Caca dengan wajah penuh selidik. " Ohh.. itu Alan, C...

perempuan itu..

Apakah ini yang disebut cinta pada pandangan pertama? Entah perasaan apa yang aku rasakan akhir-akhir ini. Perempuan itu.. Ya.. perempuan yang selama seminggu ini selalu datang ke toko buku tempatku bekerja. Perempuan itu membuatku selalu memperhatikan dia yang selalu berada di bagian rak novel-novel. Penampilan yang berbeda dengan pengunjung yang lain,, perempuan itu, selalu menggunakan legging, rok 3/4 bahkan tidak segan-segan menggunakan rok mini. Atasan yang digunakan selalu kemeja jeans, jaket jeans atau vest jeans. Dia terlihat nyaman dengan penampilan yang seperti itu. Perempuan itu, selalu membuatku sumringah disaat dia selalu datang ke toko buku ini dan membuatku resah jika dia tidak muncul.

Terimakasih, Bima

Cinta itu membutakan segalanya. Sikapmu, dan tingkah lakumu yang berlebihan terhadapku.  Membuatku jengah, bosan dan ingin jauh darimu Semua yang ingin aku katakan kepada Bima, ternyata tidak bisa aku sampaikan di saat pemakamannya. Sikap dia yang mengekangku, membuatku tidak bebas bergerak, dan membuatku merasa capek dengan setiap tingkah laku dia yang berlebihan. Diatas nisannya, aku hanya bisa terdiam mematung merasa tidak percaya dia benar-benar pergi tanpa kembali lagi. Dan rasanya airmataku pun telah mengering. Tidak bisa keluar seperti semalam saat aku ke rumah sakit untuk melihat dia yang telah tiada. Rasa jengah, dan rasa ingin jauh dari dia perlahan-lahan memudar. Perasaan yang aku rasakan hanyalah sedih, sakit, dan merasa sangat kehilangan. Bima, lelaki yang selalu membuatku tersenyum, menangis, dan marah, itu telah tiada. Sekalipun sikap dia terlalu berlebihan terhadapku,  Tapi aku tahu, semata-mata hanya karena dia sangat menyayangiku. D...

Dia sayang kamu, Tar!

21.00 WIB Tepat waktu itu, aku berlari ke ruang isolasi di sebuah rumah sakit. Aku benar-benar merasa kebingungan dengan kenyataan yang menurutku itu tidak mungkin terjadi. Bima, seseorang yang pernah ada di masa laluku. Dia berada di rumah sakit. Aku melihat kerumunan orang-orang di balik ruang isolasi tersebut. Seseorang langsung memelukku, dan menangis dipelukanku. Aku benar-benar merasa lemas. Mataku mulai kabur, airmata pun tidak dapat aku bendung lagi. " Bima uda ga ada, Tar" ucap seseorang kepadaku, tak lain adalah ibu Bima. Aku tidak menjawab perkataan Ibu Bima. Aku benar-benar langsung terdiam, tidak bisa berkata-kata lagi. Mataku nanar melihat semua orang yang ada didepan ruang isolasi. " Dia tadi manggil nama Tara terus. Makanya, tante langsung nelpon Tara. Maaf ya nak, kalo uda ganggu Tara malem-malem" Ibu Bima terus berbicara denganku, meskipun aku tidak menimpali perkataannya. " Tante.. ini boong kan? Bima ga bener-b...

Kamu dan perasaanmu

" Tar, mau gak jadi pacarku?" Perkataan Roni membuatku terkejut. Aku diam beberapa menit mencerna perkataan Roni dengan seksama. Aku tidak pernah memikirkan sampai berhubungan lebih dari persahabatanku dengan dia "jadi pacarmu? Ron, kenapa kamu malah ngomongin ini secara mendadak?" Roni hanya membalas dengan senyuman. Dia kemudian diam beberapa detik, dan langsung berkata, " Sebenernya uda dari dulu aku ngerasa kalo kamu cewe yang tepat untukku, Tar" Setelah mendengar pernyataan Roni, aku hanya bisa diam.  *** " Roni bilang kayak gitu?" Teriak Caca dengan nada histeris di telpon. " Iya, sementara aku masi belom bisa ngasih jawaban apa-apa, Ca.." Ujarku dengan nada datar. " Heii.. Apa yang kamu pikirin lagi, Taraaa.. Aku emang dari dulu ngerasa kamu cocok ama si Roni. Timbang ama si Bima" " Aku takut, Caa.. Aku takut, ntar kalo aku putus ama Roni, hubunganku ngga kayak seperti biasanya" ...